Putus Cinta dari Allah Swt

  • Update: 18/11/2015

Para ulama dahulu tidak meninggalkan al-Quran dan hadis, inti dari apa yang mereka tuliskan sesuai dengan al-Quran dan hadis, meskipun tidak secara leterlek. Tidak lain tujuannya agar mudah dipahami oleh pemula dan awam, sehingga diambil inti-intinya saja. Misalnya saja kitab matan al-gayah wa al-taqrib atau yang popular dengan sebutan kitab taqrib, sebuah kitab fiqh dasar yang membahas fiqih secara komprehensip yang ditulis oleh ulama besar al-Qadhi Abi Syuja Ahmad bin al-Husain bin Ahmad al-Isfihani (w. 593 H).

Kitab ini dalam pemaparannya tidak menyebutkan dalil-dalil al-Quran maupun hadis sebagai pijakannya, langsung menyebutkan kesimpulan-kesimpulan hukum. Karena kitab ini kitab matan untuk memudahkan hafalan, untuk tujuan itu bahkan beberapa kitab fiqih lain dibuat dalam bentuk nadzam (syair), tentu tidak bisa panjang lebar apalagi memuat dalil al-Quran dan hadis, seperti kitab al-Zubad yang ditulis seorang waliy Ibn Ruslan. Ulama berikutnya membuat catatan kaki mencantumkan dalil-dalil, riwayat-riwayat yang menjadi sumber isntinbath (pengambilan hukum) oleh ulama penyusun kitab matan itu. Seperti kitab taqrib, yang diterbitkan oleh Dar Ibn Hazm yang di tahqiq oleh Hamid al-Hamudi, kitab tipis itu menjadi cukup tepal karena hampir setiap permasalahannya diberi catatan kaki berupa dalil, baik hadis maupun al-Quran.

Termasuk kitab-kitab tasawuf juga demikian, diantaranya kitab jami’ ushul auliya yang dibaca setiap pagi Jumat Kliwon. Baiklah demikian sebagai pengantar. Pembahasan kali ini tentang aurad, dzikir, dst.

Mencintai Alloh tanpa mencintai Rasulullah saw itu tidak mungkin, karena sesuai dengan firman Allah qul in kuntum tuhibbunallah fattabiuni,  Katakanlah Muhammad jika kalian mencintai Allah maka ikutilah Aku... (Qs. Ali Imran: 31). Allah mengenal semua makhluknya, kita juga tahu Allah tapi belum tentu kita mengenal-Nya. Sarat mengenal Allah itu adalah mahbbatu rasulihi, mencintai Nabi-Nya. Kita tahu Allahu wahdahu la syarika lauhu maushufun bi kulli kamal wa munazahun an kulli naqshin, Allah Maha Esa dalam dzat, sifat dan perbuatannya, tidak ada sekutu mempunyai segala sifat kesempurnaan dan bersih dari segala kekurangan yang disangkakan kepada-Nya. Tapi tahu itu semua belum tentu kenal. Tahu dan kenal itu berbeda.

Saya tidak akan mengumpamakan Allah dengan selain Allah, ini contoh saja. Mengatakan cinta kepada Allah itu ada cirinya, ada tandanya. Kita tidak mungkin mengutakan cinta pada seorang perempuan saat dia lewat naik motor kemudian di cegat, lalu Anda mengatakan Aku cinta kamu, jika begitu caranya paling dikira gila. Demikian juga jika ada perempuan baru bangun tidur kemudian keluar rumah untuk mencari perhatian laki-laki itu juga salah. Perempuan ya membesihkan badan dahulu, bersolek dahulu, memakai bedak, lipstik, memakai pakaian yang bersih dan rapi. Kalau jaman dulu, laki-laki jatuh cinta pada seorang perempuan yang mengirim surat cinta, muji-muji, pendekatan pada yang dicintai dan keluarganya.

Demikian juga cinta kepada Allah, kita membaca tasbih, membaca tahmid (pujian), kepada Allah sebagai bukti cinta kita. Sebelum menikah cemburunya minta ampun. Lihat perempuan yang kita cintai boncengan dengan laki-laki lain cemburu, padahal ternyata itu masih saudara si wanita. Lalu kita tidak pernah merasa takut putus cinta kepada Allah? Putus cinta dari Allah karena dosa-dosa apalagi syirik. Sebelum makan kita menyebut nama Allah, bismilahirahman nirahim, betul itu sunah. Akan tetapi lebih dari itu kita berupaya mengenali anugerah Allah, kita mengingat Allah karena kita tidak bisa menciptakan nasi walau hanya sebutir saja. Niat makan untuk ibadah, jadi badan tidak akan mau diajak maksiat.

Sebelum diakhiri mari membaca fatihah mudah-mudahan hujan agar saudara-saudara kita bisa bercocok tanam. Bacaan fatihah kedua agar dolar naik. Fatihah ketiga untuk sauara muslim yang negaranya sedang berperang, untuk keselamatan anak-anak kecil, semoga perang dibalik menjadi kedamaian. Fatihah ke empat untuk saudara kita yang sakt, untuk yang wafat diampuni dosanya dan diterima amal ibadahanya amin.

(Tsi, disarikan dari pengajian Jumat Kliwon pada 14/08/15)

Share

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.

Kontak

Kanzus Sholawat, Jl. Dr. Wahidin No.70, Noyontaan, Pekalongan, Jawa Tengah 51129, Indonesia

+62 856 415 99 305

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…