Cara Jitu Membendung Aliran-aliran Tidak Jelas

  • Update: 25/01/2016

Peringatan Maulid Nabi Saw. Majelis Ta'lim Sholawat Kebasen, Talang, Tegal (24/01), digelar bersama Pemerintah Kabupaten Tegal, unsur TNI, POLRI, ulama dan masyarakat. Uniknya Maulid Nabi malam itu dihadiri juga perwakilan dari lintas agama, Bapak Paulus dan beberapa anggota jemaatnya. Maulana Habib Luthfi mengawali ceramahnya dengan uraian hikmah dan poin penting peringatan Maulid Nabi, yakni meningkatkan "kenal" pada Nabi Saw. bukan sekadar "ngerti". Yang mengerti banyak, tapi belum tentu mengenal. Dengan Maulid Nabi kita berusaha menguak mutiara-mutiara asrar (rahasia-rahasia) Baginda Nabi Saw.

Kita juga menjadi tahu kebesaran Baginda Nabi Saw., para sahabat dan para auliya' (wali Allah). Sedangkan masih sangat banyak ulama-ulama kita yang belum tertulis. Semisal di Tegal ada Sayyid Muhammad bin Abdurrahman Panggung, Ki Gede Sebayu, Ki Gede Anggawana, Ki Gede Kalisoka dan Sayyid Ahmad Ibrahim al-Maghrabi. Terus ke bawah kita tarik ada Kiai Faqih Kalimati, Kiai Romdhon Lemahduwur, Kiai Abdullah, Kiai Ubaidah, Kiai Said Giren, Kiai Abu Su'ud, Kiai Barmawi, Kiai Umar Kebasen, Kiai Umar Yomani, Kiai Utsman Yomani, Habib Zaid Baraqbah Yomani, Kiai Hasan Robil Randugunting, Kiai Muhyiddin Randugunting (Syuriah NU Tegal pertama).

Ke mana manaqib (sejarah) mereka? Padahal dengan mengenal sejarah maka akan timbul ghirah (semangat) dan kebanggaan. Mustinya kita punya kebanggaan "al-'ulama waratsat al-anbiya", ulama sebagai pewaris para nabi. Sehingga sebelum kita bercermin kepada Rasulullah, terlebih dahulu kita bercermin pada pewarisnya. Jangan jauh-jauh, lihat karomahnya Kiai Abu Ubaidah Giren dan Kiai Romdhon. Mereka adalah ulama besar Tegal zaman dulu, juga Kiai Baidhawi dan Kia Abdullah Kepatian yang merupakan ulama awal Naqsyabandiyah Khalidiyah di Tegal.

Jalurnya yaitu Kiai Abdullah mengambil dari Kiai Husein Sulaiman Su'udi, dari Sayyid Sulaiman al-Qari, dari Sayyid Abdullah Affandi, dari Maulana Khalid Mujaddid, dari Abdullah ad-Dahlawi, dari Syamsuddin Habibullah Mudzahir, dari Muhammad Nuruddin al-Badwani, dari Sulthanul Auliya Saifuddin, dari Sayyid Muhammad Ma'shum al-Faruqi, dari Sayyid Ahmad Sirhindi, dari Sayyid Abdullah al-Baqi, dari Muhammad Khawajiki, dari Sayyidil Ghauts Darwisy Muhammad, dari al-Ghauts Muhammad Zahid, dari Quthbul Ghauts Abdullah, dari Ya'qub al-Jurkhi, dari Quthbul Aqthab Muhammad 'Alauddin al-Atthari al-Hushairi, dari Sayyidis Syaikh Sulthanul Auliya wal Arifin Muhammad bin Muhammad Bahauddin an-Naqsyabandi, dari Amin Bilal, dari Muhammad Babasarmasi, dari Sayyid Ali, dari Mahbub al-Ajjiri, dari Abu Muhammad Arif, dari Sayyid Abdul Khalid al-Wujduwani, dari al-Ghauts Sayyid Abdullah al-Hamdani, dari Abi Ali al-Kharmani, dari Abil Hasan Qirthani, dari Abi Yazid al-Busthami, dari Ja'far ash-Shadiq, dari Sayyid Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq, dari sahabat Salman al-Farisi, dari Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, dari Baginda Nabi Saw. Beliau yang dulu sangat masyhur dengan Kiai Abdullah Kepatian, ulama pertama Tegal pembawa thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah, di mana sejarahnya sekarang?

Inilah ulama-ulama terdahulu yang membawa misi dari Nabi Saw. Kita jaga para leluhur dan sesepuh kita. Coba kita singgung sedikit, tapi baik. Tepekong kalau diarak oleh keturunan etnis China itu masih membanggakan para leluhur dan sesepuhnya, sangat dihormati. Dari Kwan Im yang diandalkan, dan selainnya. Mereka mengangkat (meluhurkan) yang ditokohkan, bukan maksud kita ke sana, tapi kita juga punya sendiri. Tapi kita belajar menghargai dari mereka, keturunan-keturunan China di Indonesia yang sudah menjadi warga Indonesia, masih menghargai para leluhur dan sesepuhnya. "Jadi seandainya para beliau sekarang berkumpul bersama kita, maka tidak usah heran dan kaget!" Tegas Habib Luthfi bin Yahya yang disambut tepuk tangan hadirin. Karena mereka punya prinsip yang hebat dalam menghormati para leluhurnya.

Yang terakhir, poin penting dari peringatan Maulid Nabi adalah memupuk rasa cinta kita pada Baginda Nabi Saw., para sahabat serta para pewarisnya (auliya' dan ulama). Sekarang sudah mulai muncul aliran-aliran yang tidak jelas. Cuma satu yang bisa membendungnya, yakni dengan Maulid Nabi Saw. Dimanapun tempatnya jika ada Maulid Nabi maka datangilah, kita ikut hormat di situ. Insya Allah aliran-aliran yang tidak jelas itu takutnya dengan Maulid Nabi Saw. (SS)

Share

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.

Kontak

Kanzus Sholawat, Jl. Dr. Wahidin No.70, Noyontaan, Pekalongan, Jawa Tengah 51129, Indonesia

+62 856 415 99 305

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…