Pengajian Ramadhan Habib Luthfi: Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 260-263

  • Update: 09/06/2016

Maulana Habib Luthfi bin Yahya dalam Pengajian Ramadhan Tafsir al-Jalalain (Selasa, 7/6/2016), mengingatkan tentang pentingnya memahami ilmu tauhid sebagai dasar mengkaji tafsir al-Quran. Salah satu faktor kelemahan pesantren biasanya terletak pada minimnya bahasan ilmu tauhid, masih terbatas hanya pada sifat wajib, jaiz dan mustahil, sifat-sifat yang jumlahnya 50 (Aqaid al-Khamsin). Padahal kita dihadapkan pada tafsiran-tafsiran al-Quran yang lebih condong dzahiriyah (tekstualis) dari aliran selain Ahlussunnah wal Jama’ah.

Lanjutan Tafsir Ayat Kursiy
 
Pengajian Tafsir al-Quran hari ke-2 melanjutkan kembali diskusi dengan membahas Ayat Kursiy (ayat 255 surat al-Baqarah). Untuk memperdalam Ayat Kursiy dibaca berbagai keterangan, dari Tafsir asy-Sya’rawi, ar-Razi, dan untuk menjelaskan asrar/sirr (rahasia-rahasia) Ayat Kursiy Habib Luthfi menyarankan para santri untuk membaca kitab Khazinat al-Asrar.
 
Maulana Habib Luthfi bin Yahya menjelaskan kenapa pembahasan ayat ini diulang kembali, karena banyak sekali paham/aliran yang salah memahami ayat-ayat ini. Seolah ayat ini mengamini argumen mereka bahwa Allah membutuhkan tempat, seperti Arsy, Kursiy, dll. Padahal ayat-ayat terkait dengan Kursiy, Arsy, dll. adalah untuk menunjukan keagungan Allah Swt. Bahwa makhlukNya saja begitu agung, seperti Kursiy besarnya meliputi langit dan bumi. Bahkan digambarkan dimensi semesta ini jika dibandingkan seperti debu dalam sebuah tameng.
 
Mustahil Allah membutuhkan tempat. Namun jaiz (boleh-boleh saja) Allah Swt. menamakan makhluk-makhlukNya yang agung dengan semisal Baitullah (rumah Allah), ‘Arsy dan Kursiy. Tapi tetap saja jika dibandingkan dengan keagungan Baginda Nabi Saw., jauh melampaui Arsy dan Kursiy sekalipun. Maka sebetulnya hadits tentang penciptaan Nur Muhammad cukup sebagai jawaban atas Tafsir Ayat Kursiy ini, yaitu hadits:
 
يَا عُمَر اَتَدْرِى مَنْ اَنَا، اَنَا الَّذِى خَلَقَ الله عَزَّ وَجَلَّ نُوْرِى اَوَّل كُلِ شَيْءٍ فَسَجَدَ لله وَ بَقِى فِي سُجُوْدِهِ سَبْعَمِاَئَة عَام وَلاَ فَخْرَ. يَا عُمَر اَتَدْرِى مَنْ اَنَا، اَنَا الَّذِى خَلَقَ الله القَلَمَ وَاللَوْحَ وَالعَرْشَ وَالكُرْسِى وَالعَقْلَ الأَوَّلَ وَنُوْرَ الإِيْمَانِ مِنْ نُوْرِى
 
“Wahai Umar, tahukah engkau siapa aku? Aku adalah yang Allah pertama kali ciptakan cahayaku sebelum segala sesuatu. Kemudian cahayaku itu bersujud kepada Allah hingga 700 tahun lamanya, dan aku bukan sombong. Wahai Umar, tahukah engkau siapa aku? Aku adalah yang dari cahayaku Allah telah ciptakan Qalam, Lauhul Mahfudz, Arsy, Kursiy, akal yang paling awal dan cahaya iman.”
 
Mengomentari keterangan bahwa jarak antara Kursiy dan Arsy perjalanan 500 ribu tahun, Maulana Habib Luthfi menjelaskan kisah Syaikh Daqiq al-Ied dan Sulthanul Ulama Izzuddin bin Abdissalam yang ingkar terhadap Sayyidi asy-Syaikh Ahmad al-Badawi. Mereka ingkar atas Syaikh Ahmad al-Badawi karena nampak tidak pernah shalat Jum’at padahal rumahnya persis di depan masjid.
 
Padahal siapa yang tidak kenal dengan kebesaran Syaikh Daqiq al-Ied dan Syaikh Izzuddin bin Abdissalam, dalam bidang fiqih merekalah pakarnya. Karena ingkar atas Syaikh Ahmad al-Badawi itulah akhirnya Syaikh Daqiq dijewer dan dilempar ke suatu alam/tempat bernama Dar al-Baidha. Sebuah tempat yang dikhususkan Allah Swt. untuk didiami oleh para hambaNya terpilih, para wali-waliNya. Selain Dar al-Baidha, ada juga tempat bernama Jabal Qaf. Jabal Qaf ini masih di bumi dekat dengan kutub Utara, tempatnya para malaikat dan muqarrabin beribadah kepada Allah.
 
Syaikh Daqiq merasa kebingungan saat mau pulang. Tiba-tiba ada yang mengatakan kepadanya, “Tunggu sampai hari Jum’at, ikutlah berjamaah shalat Jum’at.” Setelah tiba hari Jum’at dan beliau ikut berjamaah, ternyata yang menjadi imam shalat Jum’at adalah Syaikh Ahmad al-Badawi. Lalu beliau pun akhirnya meminta maaf dan minta dipulangkan.
 
Jawab Syaikh Ahmad al-Badawi, “Sebenarnya untuk pulang dari tempat ini ke rumahmu harus ditempuh dengan jarak tempuh 60 tahun perjalanan.” Tapi kemudian Syaikh Ahmad al-Badawi menyuruh Syaikh Daqiq memegang ujung jubahnya, dan seketika sampailah Syaikh Daqiq al-Ied ke rumahnya.
 
Kata Maulana Habib Luthfi, “Nah jarak 60 tahun ini adalah jarak yang dihitung dengan peredaran bulan dan matahari. Kalau jarak antara Kursiy dan Arsy itu dihitung dengan apa, bukankah matahari dan bulan ibarat debu dibanding keduanya? Jarak itu harus dihitung dengan hitungan cahaya. Sangat cepat! Lalu bagaimana lagi dengan Nur atau cahaya Rasulullah Saw.? Akal manapun takkan mampu menjangkaunya.”
 
Kemudian salah satu peserta ada yang bertanya terkait Ayat Kursiy yang dimulai dari ayat وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ. Maulana Habib Luthfi menjelaskan itu adalah susunan Ahli Asrar yang mengetahui rahasia huruf, seperti Syaikh Muhammad Haqqi an-Nazili, Syaikh Ahmad al-Buli, Syaikh Ahmad ad-Dairabi dan Syaikh Ahmad ad-Dardiri. Sebagian ulama mengatakan bahwa “وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ” adalah ismu (asma) al-a’dzam. Ada wali Allah yang diberi 5, 6, bahkan sampai 9 seperti Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Dan itulah wilayah kewaliannya. Terkadang ada seorang salik mencari syaikh futuh oleh gurunya ditunjukan kepada syaikh yang lain karena wilayah kewaliannya kelak di bawah kewalian wali futuhnya. Dan memiliki kesamaan dalam asma a’dzamnya.
 
Lalu kenapa ada ayat yang memiliki sirr lebih tinggi dari ayat lainnya, hal itu diantaranya disebabkan oleh kandungan makna ayat itu. Semisal Ayat Kursiy, lebih tinggi sirrnya dibanding ayat lainnya karena Ayat Kursiy langsung menegaskan sifat-sifat mutlak Allah Swt. Dan ayat-ayat yang terkait dengan asma dan sifat Allah lebih tinggi daripada ayat-ayat yang membahas perihal hukum umat-umat terdahulu. Maulana Habib Luthfi lalu menjelaskan panjang lebar sirr dan gharaib yang dikandung dalam berbagai ayat.
 
Kisah Belajarnya Nabi Ibrahim As.
 
Kemudian pembahasan dilanjutkan pada ayat 260 surat al-Baqarah yang mengisahkan Nabi Ibrahim As.
 
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
 
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. al-Baqarah ayat 260).
 
Di ayat tersebut bukan berarti Nabi Ibrahim waswas atau ragu. Mustahil bagi para rasul memiliki sifat waswas. Melainkan ayat tersebut memiliki makna ziyadah, menambah kemantapan Nabi Ibrahim As. Nabi Ibrahim sedang belajar, dan yang mengajarinya adalah langsung Allah Swt.
 
Ketika Nabi Ibrahim As. diperintahkan mengambil 4 macam unggas diantaranya adalah burung merak dan gagak, kemudian tiap bagiannya disuruh diletakkan di tiap bukit, waktu itu umat Nabi Ibrahim juga menyaksikan. Makna ayat pun semakin jelas, bahwa Nabi Ibrahim sebagai “Juru Bicara” Allah Swt. Bukan saja diri Nabi Ibrahim As. yang bertambah kemantapannya melainkan juga umatnya yang menyaksikan kejadian tersebut. Korelasinya bisa diambil sebagaimana kisah Isra’ dan Mi’rajnya Baginda Nabi Saw.
 
Nabi Ibrahim As. melihat matahari, bulan dan bintang, untuk belajar agar mengetahui perbedaan makhluk dengan Tuhannya. Bahwa semua makhluk bersifat berubah-ubah yang berarti baru (hawadits), bahkan surga sekalipun. Surga setiap detik bertambah keindahan dan kenikmatannya. Sedangkan sifat, dzat dan af’al Allah Swt. tidak bertambah ataupun berkurang. Adanya alam semesta ini sama sekali tidak menambah ataupun mengurangi keagunganNya. Pun dengan ibadah manusia siang dan malam, tahajjud, semua doa dan dzikir yang dibaca itu tidak akan menambah keagungan dan kesempurnaanNya sedikitpun. (Ibj & Tsi)

Share

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.

Kontak

Kanzus Sholawat, Jl. Dr. Wahidin No.70, Noyontaan, Pekalongan, Jawa Tengah 51129, Indonesia

+62 856 415 99 305

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…