Pengajian Ramadhan Habib Luthfi: Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 251-259

  • Update: 09/06/2016

Maulana Habib Luthfi bin Yahya belajar tafsir al-Quran menghabiskan waktu selama 11 tahun. Habib Luthfi mengingatkan dalam pembukaan pengajian Ramadhan di kediamannya (Senin, 6/6/2016), bahwa al-Quran memiliki makna dzahir dan bathin. Tidak mudah menafsiri al-Quran, harus menguasai seperangkat ilmunya semisal ilmu alat (nahwu-sharaf), balaghah, manthiq, badi’ dan bayan.

Satu contoh, dalam al-Quran terdapat lafadz jamak tapi mengandung makna ta’dib (adab/tatakrama). Sepertihalnya dalam percakapan, lafadz “Antum” (kalian/jamak) ditujukan untuk mufrad (kamu/satu orang) sebab berbicara dengan yang lebih alim atau sepuh. Itu kalimat halus, sangat menyentuh, mengandung adab.
 
Ayat “Inna nahnu nazzalna adz-dzikra...”, Nahnu di sini adalah ta’dib pada Baginda Nabi Saw., Sayyidina Jibril As., disamping memiliki faidah mutakallim mu’adzam nafsah (mengagungkan diriNya Swt.). Allah mengangkat derajat hambaNya yang terpilih. Maka kalau mau memberikan keterangan (catatan penting) bikin buku khusus sendiri, jangan di kitabnya. Minimal itu bentuk adabnya kita pada muallif (pengarang) kitab.
 
Tafsir Ayat Kursiy
 
Kajian tafsir al-Quran dengan kitab Tafsir al-Jalalain malam itu bertepatan dengan malam ke-2 bulan Ramadhan, meneruskan tafsir surat al-Baqarah ayat ke 251-259. Diantara yang perlu disoroti adalah tafsir “Kursiy Allah” atau Ayat Kursiy.
 
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
 
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya) tidak mengantuk dan tidak tidur. KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izinNya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursiy Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. al-Baqarah ayat 255).
 
Ragam tafsirnya, pertama Kursiy adalah Ilmu Allah, bukan wujudan (makhluk), sebagaimana tafsirnya Ibn Abbas Ra. dan selainnya. Pendapat kedua, Imam az-Zamakhsyari, menafsiri Kursiy dengan makhluk Allah yang sangat besar, lebih luas dari langit dan bumi. Masih menurutnya, Ilmu Allah dinamai dengan Kursiy karena ilmu itu menempati pada sesuatu. “Bisa dikatakan sebagai majazan atau isti’arah. Semisal, jika sekarang kursi itu bermakna jabatan sedangkan Kursiy di sini sebagai wadahnya al-Quran,” ucap Kang Tsauri mengutarakan argumennya. “Sedangkan menurut ar-Razi, Ilmu Allah dilambangkan dengan Kursiy sebagai lambang kebesaran,” sahut peserta lainnya.
 
Di samping itu terdapat pula hadits, meski dha’if namun hanya isnadnya saja, yang diriwayatkan oleh sahabat Umar Ra. dan Ibnu Abbas Ra. yang mengatakan bahwa hakikat Muhammad (Nur Muhammad) adalah sebagai penyebab penciptaan alam, Rasulullah Saw. bersabda:
 
يَا عُمَر اَتَدْرِى مَنْ اَنَا، اَنَا الَّذِى خَلَقَ الله عَزَّ وَجَلَّ نُوْرِى اَوَّل كُلِ شَيْءٍ فَسَجَدَ لله وَ بَقِى فِي سُجُوْدِهِ سَبْعَمِاَئَة عَام وَلاَ فَخْرَ. يَا عُمَر اَتَدْرِى مَنْ اَنَا، اَنَا الَّذِى خَلَقَ الله القَلَمَ وَاللَوْحَ وَالعَرْشَ وَالكُرْسِى وَالعَقْلَ الأَوَّلَ وَنُوْرَ الإِيْمَانِ مِنْ نُوْرِى
 
“Wahai Umar, tahukah engkau siapa aku? Aku adalah yang Allah pertama kali ciptakan cahayaku sebelum segala sesuatu. Kemudian cahayaku itu bersujud kepada Allah hingga 700 tahun lamanya, dan aku bukan sombong. Wahai Umar, tahukah engkau siapa aku? Aku adalah yang dari cahayaku Allah telah ciptakan Qalam, Lauhul Mahfudz, Arsy, Kursiy, akal yang paling awal dan cahaya iman.”
 
Habib Luthfi kemudian menjelaskan beberapa makna yang terkandung dari ayat “وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ”, Kursiy ditafsiri sebagai Ilmu Allah karena beberapa sebab diantaranya:
- Ilmu Allah tidak mungkin bisa diukur, diungkapkan dalam ayat dengan lebih luas daripada langit dan bumi.
- Ilmu Allah tidak memerlukan pertolongan/bantuan, bahkan langit dan bumi adalah makhluk yang tentu membutuhkan bantuan Allah Swt.
- Ada ilmu yang tidak diberikan kepada semua makhlukNya, hanya khusus semisal untuk malaikat, para nabi dan rasul, arifin dan wali Allah.
- Ilmu Allah yang luasnya telah ditunjukan kepada kita semua (meliputi langit dan bumi), bukan berarti ilmu Allah sebatas itu. Artinya ilmu Allah takkan mungkin bisa diukur. Jangankan ilmu Allah, langit dan bumi saja yang bisa dilihat antar ujungnya tidak bisa diukur, apalagi yang tidak kelihatan. Korelasinya dengan ayat “Wama utitum minal ‘ilmi illa qalila”, hanya sedikit saja ilmu yang diperlihatkan pada makhlukNya.
- Makna tauhidnya, yaitu tidak bisa terlepas apa-apa yang ada di langit dan bumi terkecuali atas kudrat dan iradah Allah Swt.
 
Kisah Nabi Uzair As.
 
أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَىٰ قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ يُحْيِي هَٰذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۖ فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ ۖ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۖ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۖ قَالَ بَلْ لَبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۖ وَانْظُرْ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِلنَّاسِ ۖ وَانْظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا ۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
 
“Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari”. Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini 100 tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging”. Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu”.”  (QS. al-Baqarah ayat 259).
 
Tafsir surat al-Baqarah ayat 259 ini adalah tentang kisah Nabi Uzair As. yang dikisahkan pernah melewati perkampungan (kota) mati. Orang yang dimaksud dalam ayat di atas tidak lain adalah Nabi Uzair As. Nabi Uzair bertanya dalam hatinya bagaimana Allah menghidupkan kota ini setelah menjadi kota mati. Maka untuk menunjukan kekuasaanNya Allah mematikan Nabi Uzair dan setelah 100 tahun dihidupkan kembali. Keledai Nabi Uzair yang sudah menjadi tulang belulang dihidupkan kembali. Sebagai perbandingan kecil, Maulana Habib Luthfi bin Yahya menceritakan penyaksiannya tentang sang guru mursyid.
 
Syaikh al-‘Arif Billah Abdul Malik bin Ilyas Purwokerto (Mbah Malik), adalah orang yang sangat alim dan hafidz (hafal al-Quran). Dulu pernah terjadi, sebelum shalat Dzuhur beliau terbiasa melakukan shalat sunnah Qabliyah dan setelahnya dilanjutkan membaca shalawat bersama jamaahnya dari jam 12 siang sampai jam 13:30 WIB.
 
“Shallallahu ‘ala Muhammad...” tepat jam 13:30 selesai, iqamat pun berkumandang tanpa komando karena sudah menjadi adat kebiasaannya. Meski sudah dikomati, namun waktu itu Mbah Malik masih tetap duduk terdiam, tidak bangun dan hanya tasbihnya saja yang masih jalan. Ditunggu lama Mbah Malik tak kunjung bangun hingga waktu Dzuhur hampir habis. Akhirnya shalat pun terpaksa dikerjakan berjamaah dipimpin Kiai Isa, adik ipar Mbah Malik.
 
Sampai malam hari Mbah Malik belum juga bangun, padahal kondisinya normal tidak ada gejala apapun yang mencurigakan. Sampai 3 hari, seminggu, sebulan, hingga bertahun-tahun lamanya tidak ada yang berani membangungkan. Tidak ada perubahan sedikitpun yang mencurigakan kecuali setiap harinya wajah Mbah Malik semakin yatala'la (mencorong) nurnya.
 
Baru setelah 3 tahun berlalu, Mbah Malik tiba-tiba bangun persis pada jam 13:30 WIB. “Qamat... qamat...” pinta beliau. Lalu semuanya berdiri untuk shalat berjamaah dan Mbah Malik sebagai imamnya. Herannya shalat beliau berlangsung dengan normal seperti biasanya, tanpa lemah ataupun limbung, padahal “la yasyrab wala ya’kul” (tidak makan dan tidak minum) selama 3 tahun. Itulah maqam fana’ yang pernah dialami Mbah Malik.
 
Selesai shalat, Mbah Malik bertanya, “Lha si anu mana? Si itu ke mana?”
 
“Mereka sudah meninggal Kiai,” jawab para santri.
 
“Lha tadi masih bareng shalawatan koq,” ucap Mbah Malik kaget sebelum mengetahui sudah 3 tahun dirinya baru terbangun. (Ibj & Tsi)

Share

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.

Kontak

Kanzus Sholawat, Jl. Dr. Wahidin No.70, Noyontaan, Pekalongan, Jawa Tengah 51129, Indonesia

+62 856 415 99 305

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…