Habib Luthfi: “Banyak yang Tahu Kanjeng Nabi, Tapi Tidak Mengenal Kanjeng Nabi”

  • Update: 22/01/2016

Kenapa di Indonesia tidak bosan dengan Maulid Nabi? Ini pertanyaan nylekit (mengusik), tapi harus dijawab. Maulid Nabi digelar untuk maksud mengenal Kanjeng Nabi, tidak sekadar mengetahui Kanjeng Nabi saja. Mencintai Nabi harus dimulai dari mengetahui Kanjeng Nabi. Mana mungkin disebut cinta Nabi jika tak mengetahui Kanjeng Nabi?

Lihatlah dalam Al-Quran, Allah (Sang Pencipta Muhammad) tidak pernah memanggil Kanjeng Nabi dengan “Hai, Ahmad!" atau “Hai, Muhammad!”, namun Allah menyertakan gelar-gelar kebesaran Kanjeng Nabi ketika memanggilnya: “Ya ayyuhan-Nabi, Ya ayyuhar-Rasul, Ya Muzammil, dst.”. Allah saja, yang menciptakan seluruh alam, “menghormati” Kanjeng Nabi, lantas bagaimana dengan umat manusia memosisikan Kanjeng Nabi? (Baca: Sejarah Maulid Nabi: Meneguhkan Semangat Keagamaan dan Kebangsaan [Sejak al-Khaizuran (173 H.) hingga Habib Luthfi bin Yahya (1937-Sekarang)])

Jadi kenapa masih ada orang yang melakukan maksiat? Itu karena tidak mencintai Kanjeng Nabi. Jika benar-benar mencintai Kanjeng Nabi, maka akan melakukan apa yang disampaikan, dan menjauhi apa yang dilarang. Jadi sudah sewajarnya umat manusia memuji Kanjeng Nabi, lawong kita kepada kekasih saja bisa sampai kelewatan memuji kok. Bukankah kepada Kanjeng Nabi harus lebih dari itu?

Maulid Nabi ada karena merupakan upaya untuk lebih mengenal Kanjeng Nabi. Banyak yang mengetahui siapa Kanjeng Nabi, tapi tidak mengerti (bahkan tidak mengenal) siapa Kanjeng Nabi. Sama seperti orang Indonesia; mereka tahu bendera Indonesia adalah merah-putih, tapi tidak memahami apa maksud dari warna bendera itu. Banyak yang mengetahui Negara Indonesia, namun tidak mengenal apa itu Indonesia. Logikanya, ada orang naik kereta menuju Gambir, kamudian sesampainya di sana malah Tanya “Jakarta itu sebelah mana?” Orang ini hanya tahu Jakarta, tapi tidak mengenal Jakarta.

Setiap terjadinya pertempuran jika bendera sudah jatuh dan direbut musuh, maka tandanya kalah. Maka kita wajib menjaga dan mempertahankan merah putih sebagai harga diri bangsa. Dengan kita berdiri tegak, kita mengenal dan menghormati harga diri bangsa, serta apa yang terkandung di dalam merah putih itu sendiri. Orang yang mampu menghargai diri sendiri pasti akan menghargai orang lain. Dari sini kita tanamkan harga diri bangsa kepada para generasi muda karena mereka adalah penerus bangsa. Diantaranya setiap Maulid kita ajarkan jati diri bangsa.

Pecah belah dan melunturnya nasionalisme dikarenakan kurangnya mempunyai rasa memiliki Indonesia. Kalau sudah seperti ini maka kita akan mudah dipecah belah. Bangsa Indonesia itu potensial, kekayaannya luar biasa, jenius otaknya. Syekh Ahmad Khatib Sambas itu orang Indonesia, Ulama besar di Masjidil Haram. Pengarang kitab yang masyhur (terkenal) di Masjidil Haram, bernama Syekh Nawawi Al-Bantani juga berasal dari Indonesia (Banten). Pengarang Kitab Muhibah adalah Kyai Mahfud Atturmusi dan Kyai Dimyati Atturmusi yang melahirkan kyai-kyai besar. (Baca: Pancasila Asas Negara NKRI Harga Mati)

Habib Muhammad Luhtfi bin Ali bin Hasyim Bin Yahya (Ceramah dalam acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Para Sesepuh Kelurahan Duwet Pekalongan 29 Maret 2013)

Share

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.

Kontak

Kanzus Sholawat, Jl. Dr. Wahidin No.70, Noyontaan, Pekalongan, Jawa Tengah 51129, Indonesia

+62 856 415 99 305

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…