Membela Orang Tua Nabi, Argumen dan Teori

  • Update: 16/01/2016

Al-Qadhi Ibnul ‘Arabi al-Maliki mengatakan, “Tak ada yang lebih menyakitkan bagi Nabi Muhammad saw. dibanding mengatakan kedua orang tua sebagai penghuni neraka.” Allah Maha Suci dan luhur berfirman, “Sesungguhnya orangorang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat,” (QS. alAhzab: 57)

Ibnu Asakir meriwayatkan bahwa pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, seorang menterinya mengangkat seorang dari sebuah keluarga non-Muslim sebagai kepala daerah. Padahal, daerah itu dihuni mayoritas Muslim. Umar bin Abdul Aziz memanggil pejabat tersebut dan meminta pertanggung jawabannya. Menurut si pejabat, tidak ada bedanya antara Muslim dan nonMuslim. Karena, orang tua Nabi sendiri adalah nonMuslim. Dengan menggunakan bahasa yang lebih keras, si pejabat mengatakan ayah Nabi adalah orang Musyrik.

Sama seperti ayah dari pejabat lokal yang baru diangkatnya. Umar bin Abdul Aziz marah dan memberikan teguran keras. Apa aku perlu memotong kepalamu? Apa aku perlu menggorok lehermu? Umar bin Abdul Aziz memandang bahwa kelakukan pejabat tersebut sangat menghina Nabi saw. dan keluarganya. Kejadian itu kemudian tersebar ke masyarakat. Mereka mulai membicarakan nasib orang tua Nabi saw. Apakah mereka Muslim? Apakah mereka termasuk ahli surga? Apakah mereka beriman seperti mereka? Kemudian apakahkakek Nabi juga Muslim? Bagaimana leluhur Nabi yang lain? Bagaimana ibu, nenek, dan moyang Nabi? Apakah mereka semua Muslim? Masyarakat awam yang tidak mengetahui duduk persoalan turut nimbrung dalam diskusi ini. Dengan bermodal akal cethek, mereka turut mempromosikan isu tersebut. Dalam sebagian kasus, seorang Muslim bahkan berani mengolokolok orang tua Nabi sebagai penghuni neraka.

Di level masyarakat awam, perdebatan itu berubah menjadi plesetan dan bahkan olok-olok. Bahwa mereka lebih mulia dibanding orang tua Nabi. Bahkan, mereka merasa lebih mulia karena dilahirkan dari orang tua yang Muslim. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Nabi mendengar umatnya mengolok-olok keluarganya. Bagi kita yang mencintai beliau secara tulus, pasti tidak akan rela mendengar keluarga Nabi menjadi bahan olok-olok. Lalu bagaimana sebenarnya status orang tua Nabi? Bagaimana pula dengan leluhurnya? Buku ini berpihak kepada pendapat yang menyatakan bahwa orang tua Nabi adalah orang-orang yang selamat. Dengan tegas, penulis menyatakan bahwa orang tua Nabi adalah Muslim.

Secara umum, buku ini memaparkan empat argumen pokok guna membuktikan ke-Muslim-an orang tua dan leluhur Nabi. Kami menerjemahkannya dengan empat teori pokok. Empat teori itu adalah teori ummah muslimah, teori kesucian nasab, teori fatrah, teori kebangkitan dan syahadat. Penulis tidak berhenti pada pemaparan teori belaka. Namun melanjutkan pada proses tarjih. Menurut penulis, hanya dua teori yang layak diterima. Yaitu dua teori pertama tentang ummah muslimah dan kesucian nasab leluhur Nabi. Keunggulan dua teori tersebut terletak pada validitas sumbernya. Teori pertama didasarkan kepada QS Al Baqarah: 127-128 yang menjelaskan mengenai keturunan Nabi Ibrahim sebagai keluarga Muslim. Sedangkan teori kedua didasarkan kepada hadis-hadis sahih mengenai keluarga pilihan. Bahwa Nabi Muhammad berasal dari keluarga pilihan, sejak zaman Nabi Adam hingga zaman beliau saw. Hadis-hadis tersebut merupakan pernyataan langsung Nabi Muhammad saw. Orang yang mendapatkan pengetahuan unik dari Tuhan. Hadis-hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, Muslim dan at-Tirmidzi yang dikenal sebagai ahli hadis kelas atas yang ketat dalam menyeleksi hadis-hadis pilihan. Dalam hadis-hadis tersebut dikatakan bahwa Rasulullah berasal dari keluarga pilihan.

Keterpilihan keluarga beliau diartikan dalam hadis lain dengan keluarga yang bersih dari perselingkuhan dan perzinahan. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Aku dilahirkan dari generasi terbaik keturunan Nabi Adam. Dari satu generasi ke generasi yang lain. Sampai aku berada dalam generasi yang kini aku berada di dalamnya.” Imam Muslim dan at-Tirmidzi meriwayatkan hadis sahih dari Watsilah ibn Asqa’ bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah memilih Ismail di antara keturunan Nabi Ibrahim. Lalu Allah memilih Kinanah di antara keturunan Nabi Ismail, lalu memilih Quraisy di antara keturunan Kinanah. Dan Allah memilih Bani Hasyim di antara keturunan Quraisy lalu memilihku di antara Bani Hasyim.” Abu Nu’aim meriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa Nabi saw. bersabda, “Kedua orang tuaku sama sekali tidak tersentuh sedikitpun perbuatan zina. Dan Allah senantiasa memindahkanku dari sumsum sampai ke rahim suci, murni, dan terpilih. Tidaklah bercabang dua keluarga kecuali aku ada pada keluarga paling baik dari keduanya.”

Dua teori ini membuktikan bahwa Nabi Muhammad lahir dari keluarga pilihan. Suci dalam keyakinan dan perbuatan. Suci keyakinannya karena mereka mengikuti secara konsisten agama Ibrahim. Suci perbuatannya karena mereka menjauhi perzinahan. Perbuatan yang dilarang dalam ajaran Ibrahim. Konsistensi terhadap ajaran Ibrahim ini dapat dibuktikan oleh penulis buku ini melalui pernyataan-pernyataan dan perilaku mereka yang diabadikan dalam literatur kuno. Mereka meyakini tauhid. Mereka melindungi kesucian Baitullah di Mekah. Mereka menolak menyembah berhala yang diajarkan oleh Amr bin Luhai al-Khuza’i. Mereka menolak mempraktikkan kurban untuk berhala dan tradisi-tradisi kotor jahiliah lainnya. D

ua teori ini secara tidak langsung menggugurkan argumen yang populer lainnyanmengenai zaman fatrah dan kebangkitan serta syahadat orang tua Nabi. Teori zaman fatrah tidak berlaku karena orang tua Nabi jelas mengikuti agama Ibrahim. Teori kebangkitan cum syahadat gugur karena hadis mengenai hal itu daif. Sekalipun demikian, kedua teori itu perlu diapresiasi karena sudah berupaya menghormati Nabi dan keluarganya. Leluhurnya dan keturunannya. Pada akhirnya buku, penulis mengeritik pendapat yang menyatakan kekafiran orang tua Nabi. Sekalipun didasarkan hadis sahih yang diriwayatkan Imam Muslim, namun ternyata hadis tersebut mengandung illat. Yaitu cacat yang menyebabkan keaslian hadis dipertanyakan. Hal ini karena hadis tersebut diriwayatkan seorang perawi bernama Hammad bin Salamah yang hafalannya bermasalah. Masalah hafalannya bermula dari kesalahan memahami hadis, kemudian meriwayatkan hadis tersebut secara bil ma’na (berdasarkan pengertian semata).

Upaya meriwayatkan semacam itu justru mengubah pengertian hadis, yang secara kasat mata justru merendahkan orang tua Nabi saw. Hadis tersebut kemudian bertentangan dengan Alquran. Inilah yang menyebabkan hadis riwayat Imam Muslim menjadi daif. Ulasan lebih lengkap dapat pembaca temukan dalam lipatan halaman buku ini. Buku ini menjadi penting karena mengajarkan cara menghormati keluarga Nabi secara ilmiah. Tepatnya, ilmiah menurut standar pengetahuan yang muktabar dalam tradisi Islam. Hadirnya buku ini tidak dapat dilepaskan dari upaya yang melelahkan saudara Umar Nasif. Di sela-sela perkuliahan, masih sempat beramal salih. Karenanya, kami atas nama penerbit mengucapkan beribu terima kasih. Jazakumullah ahsanal jaza’. Kepada pembaca sekalian, kami persilahkan untuk menyelami narasi penghormatan  ini. Selamat membaca dan mari menghormati keluarga Nabi!

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Bulan ini kami akan membagikan 1500 buku. 500 buku "Membela Orang Tua Nabi", buku ini berisi argumen-argumen mengenai keimanan kedua orang tua Nabi Muhammad Saw. 500 buku Para Ahli Hadis Difabel (berisi tentang ahli-ahli hadis tuna netra yang memiliki kontribusi besar dalam bidang hadis) dan 500 buku sejarah Maulid.

132 rb Mendapat 6 buku, 3 untuk Anda tiga buku lainnya untuk dibagikan. Harga sudah termasuk ongkos kirim ke seluruh Indonesia. Call / SMS / Whatsapp : 085786923366 - PIN BB : 59D48C3C www.IlmuTasawuf.com Buku bisa Anda bagikan sendiri atau mewakilkan kepada kami. ‪#‎admin‬

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.

Kontak

Kanzus Sholawat, Jl. Dr. Wahidin No.70, Noyontaan, Pekalongan, Jawa Tengah 51129, Indonesia

+62 856 415 99 305

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…