Slide background
Home
Sabtu, 16 Januari 2016 16:02

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله حمداً خالداً مع خلوده، الحمد لله حمداً لا منتهى له دون مشيئته، الحمد لله حمداً لا أجر لقائله إلا رضاه، فاللهم لك الحمد في الأولى والآخرة عدد خلقك وزينة عرشك ومداد كلماتك.

Hadirin yang Mulia

Suatu keharusan bagi setiap manusia untuk mempunyai ikatan yang didasarkan kepada sesuatu yang dicintai. Tidak akan ada kehidupan, bagi orang yang tidak mempunyai rasa cinta dan alam semesta tidak akan dinamis tanpa cinta. Maka cinta kepada Allah, cinta kepada anak, cinta dunia, cinta tanah air dan lainnya adalah sebab hidup seseorang sehingga ia juga dicintai. Factor cinta inilah yang dapat meningkatkan derajat manusia sampai kepada derajat kemanusiaan yang tertinggi.Dengan kekuatan cinta, musuh bisa berubah menjadi teman, dan dengan kekuatan cinta pula segala hal yang sulit dan mustahil untuk dilakukan berubah menjadi mudah.

 

Sabtu, 16 Januari 2016 15:19

Al-Qadhi Ibnul ‘Arabi al-Maliki mengatakan, “Tak ada yang lebih menyakitkan bagi Nabi Muhammad saw. dibanding mengatakan kedua orang tua sebagai penghuni neraka.” Allah Maha Suci dan luhur berfirman, “Sesungguhnya orangorang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat,” (QS. alAhzab: 57)

Sabtu, 16 Januari 2016 14:06

Sabtu, 16 Januari 2016 dihelat pawai panjang jimat. Panjang jimat kali ini dimuali di alun-alun depan Masjid Jami’ Kota Pekalongan. Selanjutnya pasukan pawai panjang jimat berjalan melewati Jalan Hayamwuruk-Jalan Imam Bonjol-Jalan Pangeran Diponegoro dan berakhir di lapangan Jetayu Kota Pekalongan.

Sabtu, 16 Januari 2016 13:56

Nikah massal setiap tahun selalu dilaksanakan di Kanzus Sholawat. Nikah massal ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Maulid Kanzus Sholawat Kota Pekalongan yang diselenggarakan oleh Panitia Rangkaian Maulid Kanzus Sholawat dan lebih dikenal dengan sebutan Nikah Maulid. Pada tahun ini Nikah Maulid dilaksanakan pada Jum’at, 15 Januari 2016.

Sabtu, 16 Januari 2016 11:36

Rangkaian acara Konferensi Ulama Thariqah di Hotel Santika Pekalongan ditutup oleh Maulana Habib Luthfi bin Yahya Jum'at malam Sabtu (5/1). Beliau mengawali ikhtitamnya dengan menjelaskan tujuan utama diselenggarakan Konferensi Ulama Thariqah tersebut. Tidak lain maksudnya adalah agar Indonesia menjadi sponsor mencintai negara. Masyarakat Suriah mencintai negaranya, masyarakat Maroko mencintai negaranya, masyarakat Lebanon mencintai negaranya. "Setiap anak bangsa akan memiliki kecintaan kepada tanah airnya apabila mereka mempunyai rasa bela negara yang kuat", tegas Maulana Habib Luthfi. Apa perlunya bela negara? Yang disebut bela negara bukan wajib militer. Itu makna sempit yang salah. Yang dimaksud bela negara adalah setiap anak bangsa merasa memiliki Negara masing-masing (bahasa Jawa; handarbeni). Kalau setiap anak bangsa sadar merasa memiliki Bangsanya, maka negara akan kuat. Kekuatan dari bela Negara akan menimbulkan rasa cinta tanah air masing-masing. Konferensi ini diadakan untuk melahirkan fatwa bela negara dan cinta tanah air bagi tanah air masing-masing dengan Indonesia sebagai pelopor. Bela Negara bukan hanya dalam dunia pertahanan. Dalam dunia pendidikan, perdagangan, pertanian itu termasuk bela Negara untuk menopang kemajuan bangsa. Maka bela negara jangan hanya dimaknai dengan mengangkat senjata saja tetapi melahirkan intelektual pertanian, kelautan, dan lain sebagainya yang akan memperkokoh bangsa dan negara juga merupakan bela bangsa. Kita tahu luas Indonesia yang luar biasa. Indonesia strategis. Terkaya pulau-pulaunya. Diantara beberapa anak kita yang belajar, sejauh mana tahu perbatasan Negara? Hasil daerah dan Negara? Anak-anak kita banyak ketinggalan. "Mungkin ini disebabkan kurangnya pendidikan dari orangtua. Sehingga anak kabur akan Bangsanya. Padahal wajib hukumnya Bela Negara," tutur Habib Luthfi. "Memajukan pendidikan, ekonomi, pertanian itu termasuk dalam kategori bela negara. Kekayaan apa yang ada di negara masing-masing," lanjut beliau. Bela Negara tidak hanya di militer, namun ada juga pada mencetak ilmuan, saintis, lewat pendidikan, dan lainnya, agar tercipta kedamaian dunia. Kita tahu peta Indonesia. Tapi kita hanya tahu negara ini makmur, subur, tapi tak sedikitpun melihatnya sebagai negara strategis. Kita dari kecil kurang diberi pengertian tentang negaranya sendiri, oleh karenanya semangat membelanya kurang. Tentara dan rakyat jauh tidak saling kenal. Tapi alhamdulillah di Indonesia tiap hari ulama dan tentara saling berhubungan. Rakyat dan tentara saling berhubungan. Program tentara masuk desa untuk membantu rakyat. Tentara adalah anak bangsa. Sehingga terbangun saling menghormati antara Ulama dan Tentara, Rakyat dan tentara. Tentara bukanlah instansi terpisah dari masyarakat. Mereka adalah bagian dari warga ini juga. Tanpa mengenyampingkan negara lainnya, insya Allah Indonesia menjadi percontohan bagi seluruh dunia. Setiap anak bangsa dari bangsa manapun khusunya Indonesia harus mengetahui hasil bumi, letak geografisnya dan seluruh potensi yang dimiliki. Habib Luthfi lalu mencontohkan Indonesia dari segi geopolitik dan letak geografisnya yang luar biasa, yang merupakan suatu kekuatan tersendiri. Sejauh mana generasi muda mengetahui Indonesia? Bagaimana potensi dan strategisnya Indonesia? Strategisnya pulau-pulau perbatasan Indonesia. Andai dibangun pangkalan militer di ujung Aceh dengan fasilitas dan militer yang kuat. Sehingga Indonesia punya kedudukan yang kuat. Karena ketidaktahuan tentang hal tersebut, maka kecintaan masing-masing anak bangsa kepada bangsanya berkurang. Bagaimana hubungan antar bangsa pada masalah pendidikan, perdagangan, pertanian dan lainya, ketika setiap negara ada Bela Negara maka ada suatu hubungan yang menguntungkan. Dalam al-Quran surat al-Hujurat ayat 13 Allah berfirman: يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ "...Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal." "Lita'arafu" di sini bukan hanya saling mengenal satu sama lainya tapi juga saling tolong-menolong, lebih pada kemaslahatan antar bangsa. Apa yang bisa Indonesia lakukan untuk bangsa lain, dan bangsa lain untuk Indonesia. Hubungan bilateral itu bertujuan untuk memperkuat negara masing-masing, tidak untuk saling menjatuhkan. Tidak sekadar mengenal, tapi mengenal yang sampai mengikat satu kesatuan. Satu kesatuan yang membentuk semangat persatuan dalam bangsa, dan mengikat persatuan antar negara sedunia. "Semoga keputusan Konferensi Ulama Thariqah menelurkan cinta negara adalah wajib, bela negara pun wajib." Pungkas Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya selaku Rais Aam JATMAN

Facebook

Twitter

Pengunjung

Hari ini 4

Kemarin 330

Minggu 714

Bulan 10666

Total 265040

Currently are 35 guests and no members online